SEMUA orang tahu, cepat atau lambat, kehidupan ini akan berakhir. Artinya, setiap orang pasti akan meninggal dunia. Tidak ada orang yang bertahan hidup dalam keabadian sepanjang masa seperti yang diharapkan oleh para kaisar di masa silam. Apapun yang kita lakukan, kematian pasti akan datang.

Kapan dia akan tiba? Seorang putri penenun yang menjawab serangkaian pertanyaan Buddha, menjawabnya dengan ungkapan, “Saya tahu, tetapi saya tidak tahu”. Maksudnya, saya tahu bahwa suatu hari saya akan meninggal dunia. Namun saya tidak tahu kapan dirinya akan meninggal. Semua orang juga mengalami hal yang sama, hanya tahu tetapi tidak tahu. Kita hanya bisa menunggu kematian tiba.

Dalam kehidupan ini, semua orang bagaikan berada dalam barisan eksekusi hukuman mati. Ketika kematian tiba, tidak ada yang bisa dilakukan. Kita tidak bisa menolaknya, kita tidak bisa melakukan tawar menawar, atau mencoba mengulur-ulur waktu eksekusi, dan sebagainya. Kita harus menerimanya dengan lapang dada, pasrah.

Ketika kematian tiba, tidak ada yang bisa dibawa dan tidak ada yang mau ikut dengan kita. Seluruh harta benda akan berpindah tangan, menjadi milik orang lain. Pasangan hidup dan anak-anak serta saudara, yang katanya cinta dengan kita, tidak ada yang mau ikut. Jabatan, kedudukan, pangkat; semuanya harus ditinggalkan. Satu-satunya yang setia menjadi teman adalah segala perbuatan baik dan buruk (karma) yang sudah pernah dilakukan dalam kehidupan ini dan kehidupan sebelumnya.

Secara umum, semua orang yakin dengan adanya kehidupan selanjutnya; setidak-tidaknya tentang surga dan neraka. Apa yang membuat seseorang terlahir di surga atau di neraka? Semua orang yakin bahwa perbuatan yang telah dilakukan dalam kehidupan sekarang yang akan mengantarkan mereka ke surga atau neraka. Dalam hidup ini, kita bisa memilih atau berangan-angan. Namun ketika kematian tiba, kita tidak bisa memilihnya. Tabungan perbuatan baik dan buruk yang akan mengantarkan kita.

Umat Buddha memiliki keyakinan bahwa hidup ini tidak hanya sekali. Kita hidup berulang kali, lahir dan mati dalam lingkaran kehidupan di 31 alam kehidupan. Semua perbuatan yang sekarang dan perbuatan di masa silam yang belum berbuah akan menjadi bekal perjalanan di masa mendatang. Sayangnya, kita tidak pernah tahu apa yang sudah kita lakukan dalam kehidupan sebelumnya. Dalam kehidupan ini, banyak perbuatan yang sudah kita lakukan; ada yang buruk dan ada pula yang baik.

Saya yakin, bekal perjalanan kita untuk kehidupan yang akan datang belum cukup banyak. Oleh karena itu, gunakan waktu yang ada untuk senantiasa bebuat baik. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam kehidupan ini dan coba lakukan sebaik mungkin pada saat ini, tanpa menunda-nunda waktu. Cobalah untuk berbagi, membantu orang yang kurang mampu, walaupun kecil. Cobalah untuk menjalankan sila (latihan kemoralan) dengan sebaik mungkin. Luangkan waktu untuk melatih pikiran dengan duduk bermeditasi setiap hari.

Masih banyak tabungan perbuatan baik yang bisa dilakukan. Melatih kesabaran, semangat dalam melakukan latihan atau tugas lainnya, selalu sadar atau waspada dalam setiap ucapan dan tindakan, selalu berpikir yang baik sehingga berucap yang baik, berjuang dengan sungguh-sungguh, mempunyai tekad yang kuat, dan masih banyak lagi yang lainnya. Demikian banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan.

Di hari-hari tertentu, kita bisa meningkat latihan. Misalnya dengan menjalankan atthasila. Atau berlatih meditasi secara intensif. Atau meninggalkan kehidupan rumah tangga, menjadi samanera; walaupun dalam kurun waktu hanya dua minggu.

Jika kita bisa melatih diri ke arah yang baik, secara tidak langsung kita mengurangi perbuatan buruk atau perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat. Demikian banyak bekal yang bisa dikumpulkan dalam sisa kehidupan kita.

Marilah kita menunggu mati. Tidak perlu mencari mati dengan bunuh diri, apalagi sambil membunuh orang lain dan merugikan orang banyak. Sepanjang sisa waktu yang ada, sebelum kematian tiba, gunakan untuk mengumpulkan bekal perjalanan nanti. Menuju surga atau neraka, alam yang lebih baik atau lebih buruk; tergantung dari diri kita sendiri.
(Dhana Putra).

————–

sumber : Balipost