Presiden Sukarno Versus Presiden SBY

Yusran Darmawan
11 Maret 2010 | 05:56

SETIAP kali membaca catatan sejarah negeri ini, saya selalu terkagum-kagum saat mengetahui betapa luasnya wawasan dan tingginya intelektualitas para pendiri bangsa ini. Mereka bukan sekadar pemimpin kharismatik yang berada di garis terdepan pertahanan yang menatap para penjajah dengan mata tak berkedip. Mereka adalah para cendekia yang menyulut pijar intelektualisme yang kemudian membangkitkan kesadaran semua warga bangsa tentang betapa pentingnya kata kemerdekaan.

tiga sosok founding father kita yakni Sjahrir, Soekarno, dan Hatta

Setiap kali membaca catatan penjelajahan pengetahuan para founding father kita, saya seakan disadarkan berulang-ulang bahwa intelektualitas adalah sesuatu yang bisa menggerakkan. Intelektualitas adalah pelita yang menerangi sudut-sudut tergelap pengetahuan manusia. Intelektualitas adalah api yang menyala-nyala dan membakar belenggu ketidaktahuan dan mencairkan kebekuan pengetahuan manusia. Intelektualitas adalah sesuatu yang mengejawantah dan memberi kemampuan pada seseorang untuk membangkitkan sesuatu pada diri orang lain yang kemudian bergerak cepat dan melesat bak meteor.

Tokoh-tokoh seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka bukanlah sosok yang gagah perkasa dengan fisik digdaya dan tinju yang memingsankan lawan. Mereka bukan sosok pemimpin pasukan dengan senjata yang meluluh-lantak. Mereka adalah sosok yang ringkih namun penuh gagasan menyala-nyala. Mereka adalah para cendekia yang terlahir untuk memberikan sapuan warna bagi perjalanan intelektualitas negeri ini. Mereka bukan cuma menjadi pemimpin politik dengan pidato yang mengguntur dan merobek-robek langit di siang hari. Mereka adalah sosok yang mengisi malamnya dengan menuliskan gagasan-gagasan yang kemudian menjadi mata air inspirasi bagi bangsanya. Mereka adalah sosok yang hening, bertafakur pada satu malam, dan mengalirlah buah-buah pemikiran dalam buku-buku dengan kalimat yang tajam bak pedang.

Bagi saya, Sukarno adalah sosok manusia besar yang dilahirkan bangsa ini. Saat berpidato, kalimatnya seperti mantra yang bertuah. Salah satu kalimatnya adalah ”Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera, agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 sen sehari.” Sejarah tak hanya mencatat sosoknya yang sanggup membakar emosi massa saat berpidato, namun ia juga sanggup menggarami massa dengan samudera gagasan. Pada usia muda, ia sudah membuat tulisan yang berjudul Nasionalisme, Marxisme, dan Islam serta ratusan tulisan yang tersebar di berbagai media, yang kemudian diterbitkan menjadi buku Di Bawah Bendera Revolusi. Tulisan-tulisan itu menggambarkan visinya yang dahsyat untuk persatuan semua anak bangsa. Bahkan, salah satu pleidoinya semasa muda di hadapan pengadilan Belanda yang diberinya judul Indonesia Menggugat, dicatat sebagai satu pidato yang menggugah semua anak bangsa untuk menyadari haknya sebagai manusia yang bebas lepas seperti merpati. Ia juga menulis naskah drama yang berjudul Sarinah. Sukarno adalah intelektual yang hebat dan produktif.

Seperti halnya Sukarno, Hatta adalah salah satu manusia paling cemerlang yang pernah dilahirkan bangsa ini. Hatta adalah politisi paling produktif yang terlahir dari rahim bangsa ini. Karya-karyanya tidak hanya membahas aspek ekonomi, sesuatu yang hanya bagian kecil dari pengetahuannya. Ia juga membahas politik, kebudayaan, serta dialog-dialog filosofis yang amat cerdas dan menunjukkan wawasannya yang amat luas. Beberapa tahun lalu, karya legendaris Hatta yang berjudul Mendayung di Antara Dua Karang dinobatkan oleh Majalah Tempo sebagai buku terbaik yang pernah dibuat oleh anak bangsa di sepanjang abad ini. Buku ini sangat orisinil dan berisikan dialog-dialog di antara berbagai aliran ekonomi serta gagasan tentang di manakah posisi bangsa Indonesia. Bagi Hatta, Indonesia tidak harus menjadi barat seperti Amerika, tidak juga menjadi timur seperti Uni Soviet. Indonesia punya haluan dan jalan sendiri menuju zaman baru. Hatta membangun karakter bangsa Indonesia yang mandiri dan tidak tergantung pada siapapun. Karakter itu ditampakkannya, bahkan saat berpidato di hadapan Ratu Yuliana dalam Konferensi Meja Bundar.

Namun, karya yang lebih mencengangkan saya adalah Alam Pikiran Yunani. Buku ini berisikan dasar-dasar filsafat Yunani yang ditulis dengan bahasa yang sedemikian filosofis. Pikirannya jernih. Ia mengatakan, ”… filosofi berguna untuk penerang pikiran dan penetapan hati. Ia membawa kita ke dalam alam pikiran, alam nurani semata-mata. Dan oleh karena itu melepaskan kita daripada pengaruh tempat dan waktu.” Hatta adalah penulis dan intelektual hebat yang karib dengan kesendirian sebab melalui kesendirian, ia bisa menarik jarak dengan realitas dan menuliskan pikirannya dengan jernih. ”Dalam pergaulan hidup yang begitu menindas akan rohani, sebagai di tanah pembuangan Digul, keamanan perasaan itu perlu ada. Siapa yang hidup dalam dunia pikiran, dapat melepaskan dirinya daripada gangguan hidup sehari-hari,” katanya.

Seperti halnya Hatta, tokoh Sjahrir juga politisi yang cerdas. Pada tahun 1920-an, Sjahrir untuk mengambil bagian dalam polemik tentang teori-teori besar dalam politik bersama Sukarno, Hatta, dan Tan Malaka. Sjahrir ikut meramaikan debat dan menyusun buah-buah pemikirannya dalam buku berjudul Demokrasi Kita. Ia sudah memikirkan sintesa antara sosialisme dan demokrasi, pada masa yang jauh sebelum sosiolog Anthony Giddens mensintesakan teori sosialisme jalan tengah, yang kemudian dijiplak hais-habisan oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Sjahrir adalah tipe intelektual yang tidak suka tampil di hadapan massa. Ia menuliskan renungan-renungannya secara mendalam dengan bahasa yang jernih tentang bangsa ini.

Selain Sukarno, Hatta, dan Sjahrir, tokoh seperti Tan Malaka akan dicatat pula dengan tinta emas. Kisah hidupnya seperti kisah spionase. Ia berpindah-pindah dan menghindari kejaran pemerintah kolonial. Ia terasing dari hiruk-pikuk zaman, bahkan ketika Indonesia sudah merdeka sekalipun. Bagi saya, ia adalah politisi paling cerdas dan paling komprehensif dalam membahas sains, serta kaitannya dengan ideologi. Melalui pemahaman yang komprehensif itulah ia membangun konsepsinya tentang negara Republik Indonesia. Ia menulis traktat lengkap yang komprehensif tentang ideologi yang dianut dan dibelanya. Karyanya Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika, adalah karya terbaik yang menguji pahamannya tentang pengetahuan dan ideologi yang dianutnya. Meskipun karya ini lahir dari persembunyian, namun justru kian menunjukkan kehebatannya sebagai sebuah buku dnegan kalimat yang terjaga secara ilmiah. Karya ini sama seriusnya dengan Karl Popper menulis The Open Society and Its Enemies untuk menjelaskan, mempertahankan dan menguji ideologi demokrasi liberal. Tan Malaka adalah intelektual yang produktif dengan lahirnya karya-karya seperti Aksi Massa, Madilog, ataupun Menuju Nalar Republik Indonesia.

***

Kawan yang baik, marilah kita bertanya apa saja karya-karya yang menjadi jejak intelektualitas dari pemimpin di masa kini. Marilah kita bertanya, apa saja yang dihasilkan Presiden SBY selain dari lirik-lirik lagu tentang bangsa? Apa sajakah karya besar yang pernah dihasilkan para tokoh politik masa kini seperti Jusuf Kalla, Megawati, Wiranto, Budiono, ataupun Prabowo? Apakah mereka punya jejak emas di jalan intelektual sebagaimana para pendiri bangsa ini? Marilah kita bertanya pada diri kita, apakah ini pertanda intelektualitas tidak lagi menjadi mercusuar yang membawa kita ke zaman yang lebih baik? Jangan-jangan ini adalah pertanda pergeseran dari zaman yang sebelumnya mengapresiasi intelektualitas, menjadi zaman yang menghamba pada selubung citra.

Marilah bersama kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Pulau Buton, 11 Maret 2001