Om Swastyastu.

Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa terdiri dari dua unsur yang utama yaitu purusa dan pradana atau unsur kejiwaan dan unsur kebendaan.

Purusa adalah jiwa yang penuh kesadaran karena bersumber dari atman. Atman berasal dari Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa. Pradana adalah unsur material yang menjadi dasar jasmani terdiri dari lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta (tanah, air, api, udara dan angkasa). Karena itu Bhagavadgita menyebutkan, manusia memiliki dua kecenderungan yaitu kecenderungan kede-waan atau dewa sampad dan kecenderungan keraksasaan atau asura sampad. Kedua kecenderungan itu bisa silih berganti muncul setiap saat menguasai manusia.

Jika kecenderungan kedewaan yang menguasai manusia, ma-ka segala perbuatannya selalu berdasarkan pada sreya karma. Sreya karma mengarahkan perbuatan yang selalu berdasarkan dharma, karena didorong oleh kesadaran. Kesadaran itu adalah penguasaan indria oleh pikiran dan pikiran oleh budhi yang disinari pancaran suci atman. Sebaliknya, kalau kecenderungan keraksasan yang menguasai diri manusia, maka segala perbuatan manusia selalu didasarkan oleh wisaya karma. Wisaya karma mengarahkan manusia berbuat di luar dharma bahkan bertentangan dengan dharma. Perbuatan itu semata-semata didorong wisaya atau hawa nafsu semata.

Sreya karma mengarahkan perbuatan yang disebut subha karma (perbuatan baik) dan wisaya karma mengarahkan perbuatan yang disebut asubha karma (perbuatan yang penuh dosa). Manusia tentu harus menghindari perbuatan yang penuh dosa. Untuk mengetahui perbuatan dosa dan perbuatan yang sesuai dengan dharma dapat dilihat contohnya dalam Itihasa dan Purana. Dalam Mahabharata, Pandawa di bawah tuntunan Sri Krishna selalu berbuat dengan penuh pertimbangan dharma. Sebaliknya Korawa, saudara sepupu Pandawa, berbuat atas dasar dorongan hawa nafsu keduniawian saja. Contoh perbuatan yang baik dan buruk, juga bisa kita temukan dalam Ramayana. Sri Rama selalu bertindak di atas pertimbangan dharma. Sedangkan Rahwana selalu bertindak berdasarkan doro-ngan hawa nafsu yang menyimpang sama sekali dengan dharma.

Berbuat yang selalu berdasarkan dharma tidak segampang membalik telapak tangan. Tantangan atau godaan acapkali menghadang, sehingga untuk melakukan kebajikan itu, harus berani menanggung derita, bahkan mempertaruhkan nyawa. Satu hal yang perlu diingat adalah, agar dapat selalu berbuat berdasarkan dharma, maka harus selalu memelihara kesadarannya.

Perayaan Siwa Ratri adalah salah satu bentuk ritual Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkan upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagra-lah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit mendapatkannya. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memu-satkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut “malam kesadaran” atau “malam pejagraan”, bukan “malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.

Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.

Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki

kekauatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri se-sungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa dise-butkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

Sumber Ajaran Siwa Ratri

Brata Siwa Ratri pada mulanya dirayakan amat terbatas, yaitu hanya oleh sejumlah pendeta di Bali dan Lombok. Pada tahun 1966, setelah hancurnya Komunisme di Indonesia, kesadaran akan kegiatan rohani kian bangkit. Tahun 1966 itulah, perayaan Siwa Ratri mulai dimasyarakatkan oleh Parisada dan pemerintah lewat Departemen Agama.

Mengapa Siwa Ratri dimasyarakatkan, tentu karena memang dianjurkan oleh kitab suci Hindu. Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bahwa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Kemudian baru sejak 1966, Siwa Ratri dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.

Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitab-kitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Dalam Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebutlah, dikisahkanlah seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat kesa-darannya bangkit, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.

Yang seyogyanya dilakukan dalam kaitan Siwaratri adalah sebagai berikut.
1. Jagra – Tidak tidur selama 36 jam ( mulai jam 06.00 – 18.00 ) esokharinya
2. Upawasa – tidak makan dan tidak minum 24 jam( 06.00 – 06.00 ) esoknya
3. Mono Brata – Tidak berbicara 12 jam(06.00 – 18.00) hari yang sama
4. Japa mantram pada saat menjelang Ciwa linggam 00.00 tengah malam.

Dalam kegiatan ini dibagi menjadi tiga jenis.
1. Nistama activitas : dengan melakukan Jagra / kesadaran selama 36 jam
2. Madyama : Dengan melakukan Jagra dan Upawasa.
3. Utama : Dengan melakukan Jagra, Upawasa, dan Monobrata,

Untuk meramu kegiatan ini biasanya kami maring Pura Serang melakukan kgiatan aktipitas sebagai berikut.

1. Jam 06.00. Matur pakeling sarana banten pejatian munggah maring Padma sekali gus nguningayang kami akan melaksanakan brata Shiwaratri yang diteruswkan ngawitin Monobrata, Upawasa, dan Jagra.

2. Jam 18.00. Sembahyang bersama sekaligus mengakhiri Manobrata, sedangkan untuk Upawasa dan Jagra masih berjalan, dilanjutkan dengan Darmatula bersama umat. khusus membahas Shiwaratri kalpa.

3. Jam 23.30 – 00.30. Shiwa Linggam Kegiatan dharmatula berhenti langsung dengan berjapa tengah malam bersama umat dengan masing masing Rudraksa/genitri sudah ada ditangan, 108 Nama Siwa. kegiatan Jagra dan upawasa masih berjalan. dilanjutkan dengan dharmatula supaya tidak mengantuk ( Jagra dan Upawasa) masih berjalan

4. Jam 06.00 / esokan harinya kita melakukan Surya Sevanam menyambut surya pagi bersama, sekaligus buka puasa bersama dengan makanan alakadarnya, sedangkan Jagra masih berjalan.

5. Jam 18.00 kembali sembahyang bersama sekaligus Tilem ke VII, pengastawa sama dengan purnama tilem. dan akhirnya kegiatan Siwaratri kita sineb sampai disitu, sekaligus untuk Jagra selama 36 jam berakhir.

Inggih rarisang dicoba sesuai dengan niat masing masing, yang penting sikapilah dengan bijak jangan sampai memaksakan diri, karena ini cukup berat.

Jagra, yang artinya tingkat kesadaran harus dicontrol bukan hanya melek tok
Monobrata, artinya tingkatkan kesadaran jangan sampai ngomongin orang lain shg menjadi mempersempit lingkup kita.
sedangkan Upawasa, hambil advantagenya bagaimana rasanya pengekakang hawa napsu, rasa, birahi, dsb inilah kita harus kontrol.
inggih selamat mencoba.
Namaste.