MEMBENTUK KELUARGA HARMONIS DAN BAHAGIA*
I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)**

A. Pendahuluan

…….grhastha ta sira mastri pwa
sira, manak-madrewya hulun, ityewawadi, mangunaken kayekadhrma
yathasakti……(Agastya Parwa)

……Grhasthalah beliau dengan beristri
beliau, mempunyai anak, memiliki abdi, memupuk kebajikan yang berhubungan
dengan pembinaan diri pribadi, dengan kekuatan yang ada padanya…. (Tim
Penyusun, 2000: 5)

Pawiwahanadalah ikatan lahir batin (skala dan niskala ) antara seorang pria dan wanita
untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal yang diakui oleh hukum Negara, Agama
dan Adat.
Sedangkan yang
dimaksud dengan keluarga bahagia (sukhinah) adalah: keluarga yang dibina atas perkawinan
yang sah, mampu memenuhi hajat spiritual dan material secara layak dan
seimbang, diliputi suasana kasih sayang antara anggota keluarga dan
lingkungannya dengan selaras, serasi, saling setia, serta mampu mengamalkan,
menghayati, dan memperdalam nilai-nilai sraddha dan bhakti (Dirjen Bimas Hindu
dan Buddha, 2001: 8)
* Disampaikan
dalam Seminar & Dharma Santih Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1929 oleh
Tempek Utan Kayu, Banjar Jakarta Timur, WHDI Jakarta Timur, dan Unit Kerohanian
Hindu IPEBI, Minggu, 01 April 2007.
** Pinandita Pura Agung Tirta
Bhuana Bekasi

Tujuan orang membentuk rumah tangga adalah
untuk: 1. Dharmasampati, kedua
mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas
dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña, sebab di dalam grhastalah aktivitas
Yajña dapat dilaksanakan secara
sempurna.2. Praja, kedua
mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban
kepada leluhur. Melalui Yajña dan
lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada
leluhur (Pitra rna), kepada Deva (Deva rna) dan kepada para guru (Rsi rna). 3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan
kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan kama) yang tidak bertentangan dan
berlandaskan Dharma. Meskipun dalam kehidupan berumah tangga tidak ada
larangan untuk berhubungan kelamin tapi orang hendaknya tetap menjaga menghamburkan air mani yang tidak berguna agar tetap memiliki kekuatan
bathin. Hubungan kelamin hendaknya dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh
anak-anak yang bermoral dan berwatak baik dan dilakukan pada hari-hari tertentu
saja. Rtu kalabhigamisyat,
svadaraniratan sada, parvarjam vrajeccainam tad vrato rati kamyaya (Manavadharmasastra , III.45) – Hendaknya suami menggauli isrtinya dalam
waktu-waktu tertentu dan selalu puas dengan istrinya seorang, ia juga boleh
dengan maksud menyenangkan hati istrinya mendekatinya untuk mengadakan hubungan
kelamin padahari apa saja kecuali pravani (Pudja dan Sudharta, 1996: 144).
Orang hendaknya tidak melakukan hubungan kelamin pada hari kematian/kelahiran
guru kerohanian, pada hari puasa bulanan, pada hari raya besar agama, pada
waktu istri sedang menstruasi, mengandung atau setelah melahirkan sbelum masa
nivasnya selesai, pada saat bulan purnama, tilem, ketika gerhan matahari, atau
bulan, saat kelahiran suami atau istri. (Candrawati, tt: 38)
Dengan demikian tugas utama orang yang berkeluarga adalah menjaga dan
memelihara nilai-nilai kerohanian keluarga serta masyarakatnya. Guna menyokong
keperluan tersebut mereka harus bekerja keras mencari uang, kedudukan, gelar,
kekuasaan, dan kekayaan.
Demikian kepala keluarga dituntut bekerja keras mencari nafkah atau uang
sesuai dengan bakat dan kepribadian masing-masing. Dalam kehidupan berkeluarga,
pasangan suami-istri tidak boleh menjadi manusia pemalas yang hanya
mengandalkan kekayaan orang tua atau orang lain. “Stri dhadani tu ye
mohad, upaji vanti bhandavah, nari yayani vastram va, te papa yantyadhogatim” (Manusmrti, III.52) – Tetapi laki-laki yang karena kebodohannya hidup dari
harta kekayaan pihak istri atau keluarga istri dalam bentuk ternak, kendaraan,
pakaian, dan lain-lain. Dia hanya akan makan dosa dan kelak tenggelam dalam api
neraka ( Candrawati, tt: 43).
Kekayaan orang tua bukan untuk dihabiskan melainkan dirawat dan dijaga kelestariannya.
Pengetahuan rohani dan ketrampilan duniawi yang didapatkan mereka selama
menjadi Brahmacari atau Brahmacarini sudah cukup buat menunjang kehidupan
mereka dalam memelihara keluarga. Jadi mereka tidak perlu harus meminta-minta
bantuan dari keluarga maupun sanak saudara dalam memelihara kehidupan keluarga,
anak, dan istrinya sendiri.

B. Ciri-Ciri Keluarga Harmonis
“Sanandam
sadanam sutastu sudhiyah kanta priyalapini icchapurtidhanam svayositi ratih
svajnaparah sevakah atithyam sivapujanam pratidinam mistannapanam grhe sadhoh
sanggamupasate ca satatam dhanyo grhastharsamah” (Canakya Niti Sastra,
XII.1)

Artinya: Tinggal di dalam rumah yang penuh dengan kebahagiaan, anak-anak
semua cerdas, istri selalu berkata-kata manis, kekayaan cukup untuk memenuhi
keinginan, hidup berbahagia dengan istri sendiri, para pelayan patuh pada
segala yang diperintahkan, tamu-tamu dihormati, setiap hari tekun memuja Tuhan
Yang Maha Esa, selalu tersedia makanan dan minuman yang enak, selalu bergaul
dengan orang-orang suci, rumah tanggga yang demikian adalah grhastha yang mat
beruntung dan berbahagia adanya. (Dharmayasa, 1991: 100)
Dari sloka tersebut di atas, sebuah keluarga dapat dikatakan harmonis jika, masing-masing
anggota keluarga dapat melakukan dharmanya dengan baik.
1. Dharma seorang Suami:
a. Melindungi istri dan anak-anaknya.
b. Menyerahkan harta dan menugaskan kepada istri
sepenuhnya untuk mengurus rumah tangga serta urusan agama bagi keluarga (MDS,
IX.11)
c. Menjamin hidup dengan memberi nafkah istri bila karena
sesuatu urusan penting ia meninggalkan istri dan keluarganya ke luar daerah
(MDS, IX.74)
d. Memelihara hubungan kesuciannya dengan istri dan saling
percaya (setia) sehingga terjalin hubungan yang rukun, harmonis dalam rumah
tangga (MDS, IX.101-102)
e. Menggauli istrinya dan mengusahakan agar tidak timbul
perceraian dan masing-masing tidak melanggar kesucian (MDS, III.45)
f. Mengupayakan kesehatan jasmani anak (sarirakrt),
membangun jiwa anak (Pranadata), dan memberkan makanan dan minuman (annadata)
(Sarasamuccaya 242)
g. Patti, yakni: Memberkan perlindungan pada anak
dan istrinya, dan Bhastri, yaitu: menjamin kesjahteraan istri dan
anak-anaknya (Grha Sutra)
h. Matulung hurip rikalaning bhaya; menyelamatkan
keluarga pada saat bahaya, nitya maweh bhinojana; selalu mengusahan
makanan yang sehat dan sattvika, mangupadyaya; memberikan ilmu
pengetahuan kepada si anak, anyangaskara; menyucikan si anak atau
membina mental spiritual si anak, dan sang ametwaken; sebagai penyebab
lahirnya si anak (Kakawin Nitisastra VIII.3)
2. Dharma seorang Istri:
a. Berusaha untuk menghindari bertindak di luar
pengetahuan suami atau orang tuanya (MDS, V.149)
b. Pandai membawa diri dan pandai mengatur rumah tangga
(MDS, V. 150)
c. Setia kepada suami dan hendaknya selalu berusaha tidak
melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan untuk hidup suci (MDS, V.
156, 160, 164, MDS, IX.29-30 dan Atharvaveda XIV. 1.42 dan Canakya Nitisatra,
IV. 13)
d. Selalu mengendalikan diri dalam keadaan suci dan selalu
ingat kepada suami dan Tuhan, waspada, tahan uji dan menjaga nama baik keluarga
( Rgveda X.85. 27 dan MDS, V.165)
e. Memelihara rumah tangga
f. Istri yang ditinggal tugas oleh suami ke luar daerah
bila tidak diberi nafkah ia dapat bekerja untuk menunjang hidupnya asal tidak bertentangan dengan
kesopanan (MDS. IX.75)
g. Untuk menjadi ibu, wanita telah diciptakan di samping
itu ia mempunyai pula kewajiban di rumah, sebagai pengurus rumah tangga dan
penyelenggara upacara keagamaan.
3. Dharma seorang Anak
a. Hormat kepada ibu dan ayahnya setiap hari, teguh
melakukan tapa, menjaga kesucian diri, berpegang teguh kepada dharma (Veda
Smrti, 2.233 dan Sarasamuccaya 239 & 250)
b. Berkepribadian utama dan membantu meringankan beban
keluarga (Canakya Nitisastra, III. 17)
c. Menjaga nama baik orang tua

C. Kewajiban Para Grhasthin
Secara umum kewajiban orang berumah tangga
adalah sebagai berikut:
1. Kewajiban pada Hyang Widhi dan Guru Kerohanian
2. Kewjiban kepada orang tua
3. Kewajiban kepada anak
4. Kewajiban pada sanak keluarga
5. Kewajiban pada masyarakat
6. Kewajiban pada lingkungan

E. Fungsi Keluarga
Dalam membangun keluarga bahagia sejahtera meningkatkan
ketahanan keluarga merupakan salah satu jawaban yang perlu mendapat prioritas
tinggi dengan memperhatikan fungsi-fungsi keluarga yang meliputi fungsi Brahmana
(keagamaan), Ksatria (perlindungan) , Vaisya (ekonomi), Sudra (kasih sayang) reproduksi, sosialisasi
dan pendidikan, budaya, serta pelestarian lingkungan. Adapun peranan keluarga dalam hal pembinaan
anggota keluarga, yaitu meliputi bidang:
1) Keagamaan; Keluarga mempunyai fungsi
sebagai Brahmana; untuk mendorong anggotanya menjadi unsur
bergama dengan penuh iman dan taqwa kepada Tuhan YME dengan menjalankan
kewajibannya. Juga termasuk di antara fungsi keagamaan adalah :
a) Membina norma/ajaran agama sebagai dasar
dan tujuan hidup seluruh anggota keluarga
b) Menerjemahkan ajaran/norma agama ke dalam
tingkah laku hidup sehari-hari seluruh anggota keluarga
c) Memberikan contoh konkrit dalam hidup
sehari-hari dalam pengamalan dari ajaran agama
d) Melengkapi dan menambah proses kegiatan
belajar anak tentang keagamaan yang tidak atau kurang diperolehnya di sekolah
dan di masyarakat.
e) Membina rasa, sikap dan praktek kehidupan
keluarga beragama sebagai pondasi menuju kesejahteraan sosial keluarga
2) Melindungi (Ksatria); Keluarga
merupakan wadah untuk melanjutkan kehidupan manusia dari generasi yang satu ke
generasi lainnya, mengasuh, merawat dan melindungi agar menjadi manusia yang
berkualitas. Fungsi keluarga dalam melindungi anggotanya di antaranya adalah
untuk :
a) memenuhi kebutuhan rasa aman anggota
keluarga baik dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luar
keluarga
b) membina keamanan keluarga baik fisik
maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan yang datang dari luar
c) membina dan menjadikan stabilitas dan
keamanan keluarga sebagai modal menuju keluarga sejahtera
3) Ekonomi (Vaisya); Keluarga
menjadi sumber pendukung dan pemenuhan kebutuhan anggota-anggotanya untuk dapat
mengarahkan kehidupan secara mandiri. Karena itu sebuah keluarga juga mempunyai
fungsi ekonomi yang di antaranya berfungsi untuk :
a) melakukan kegiatan ekonomi baik di luar
maupun di dalam lingkungan keluarga dalam rangka menopang kelangsungan dan
perkembangan kehidupan keluarga
b) mengelola ekonomi keluarga sehingga
terjadi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara pemasukan dan
pengeluaran keluarga
c) mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua
di luar rumah dan perhatiaannya terhadap anggota keluarga berjalan secara
serasi, selaras, dan seimbang.
d) Menggunakan pendapatan atau keuangan
keluarga secara efektif dan efisien dan berdaya guna. Hal ini dijelaskan dalam
kitab Sarasamuccaya 262, yaitu: “ekanamcena dharmarthah kartavyo
bhutimicchata, ekenamcena kamartha ekamamcam vivirddhayet – Demikianlah
hakekatnya maka dibagi tiga (hasil usaha itu), yang satu bagian guna biaya
mencapai dharma, bagian yang kedua adalah untuk biaya memenuhi kama, bagian
yang ketiga diperuntukkan untuk kegiatan usaha (investasi) ekonomi, agar
berkembang kembali demikian hakekatnya, maka dibagi tiga, oleh orang yang ingin
memperoleh kebahagiaan (Kajeng, dkk, 1999: 199).Dengan demikian jangan
hendaknya; 1 mengeluarkan uang jika tidak perlu sekali dan 2. kalaupun
tergoda untuk menggunakan uang tersebut ingat rumus 1( pertama)
e) Membina kegiatan dan hasil ekonomi
keluarga sebagai modal untuk mewujudkan keluarga sejahtera.
4) Cinta Kasih (Sudra); Keluarga
merupakan landasan untuk mengikat batin anggota-anggotanya sehingga saling
mencintai, menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya, dengan
penciptaNya, sesamanya maupun dengan lingkunangnya.
a) menumbuhkembangkan potensi kasih sayang
yang telah ada antara anggota keluarga (suami-istri, anak) ke dalam
simbol-simbol nyata (ucapan, tingkah laku) secara optimal dan terus menerus
b) membina tingkah laku saling menyayangi
baik antar anggota keluarga maupun antar keluarga yang satu dengan yang lainnya
secara kuantitatif dan kualitataif.
c) Membina praktek kecintaan terhadap
kehidupan duniawi dan rohani dalam keluarga secara serasi, selaras dan seimbang
d) Membina rasa, sikap dan praktek hidup
keluarga yang mampu memberikan dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup
ideal menuju keluarga sejahtera.
5) Sosial Budaya; Keluarga merupakan
transformator nilai-nilai budaya antar generasi sehingga mampu melestarikan
nilai-nilai sosial budaya yang bermutu. Fungsi sosial budaya yang harus diemban
oleh sebuah keluarga di antaranya adalah :
a) Membina tugas-tugas keluarga sebagai
lembaga untuk meneruskan norma-norma dan budaya masyarakat dan bangsa yang
ingin dipertahankan
b) Membina tugas-tugas keluarga sebagai
lembaga untuk menyaring norma dan budaya asing yang tidak sesuai
c) Membina tugas-tugas keluarga sebagai
lembaga dimana anggotanya mencari pemecahan masalah dari berbagai pengaruh
negatif globalisasi dunia
d) Membina tugas-tugas keluarga sebagai
lembaga dimana anggota mengadakan kompromi/adaptasi dari praktek (positif) dari
kehidupan globalisasi dunia
e) Membina budaya keluarga yang sesuai,
selaras dan seimbang dengan budaya masyarakat/bangsa untuk menunjang
terwujudnya kesejahteraan sosial keluarga
6) Reproduksi; Keluarga merupakan tempat
untuk mendidik anak-anaknya agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan
sosial dan alam sekitarnya untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
a) membina kehidupan keluarga sebagai wahana
pendidikan reproduksi sehat baik bagi anggota keluraga maupun bagi keluarga
sekitarnya.
b) Memberikan contoh pengamalan kaidah-kaidah
pembentukan keluarga dalam hal usia, pendewasaan fisik maupun mental
c) Mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi
sehat, baik yang berkaitan dengan waktu melahirkan, jarak antara dua anak dan
jumlah ideal anak yang diinginkan dalam keluarga
7) Sosialisasi dan Pendidikan; Keluarga
merupakan tempat untuk mendidik anggota-anggotanya untuk memelihara keserasian
lingkungan dengan faktor penyangga kehidupan. Dalam sosialisasinya, sebuah
keluarga diamanahkan untuk :
a) Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sbagai
wahana pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama
b) Menyadari, merencanakan dan menciptakan
kehidupan keluarga sebagai pusat dimana anak dapat mencari pemecahan dari
berbagai konflik dan permasalahan yang dijumpainya, baik dilingkungan sekolah
maupn masyarakat
c) Membina proses pendidikan dan sosialisasi
anak tentang hal-hal yang diperlukannya untuk meningkatkan kematangan dan
kedewasaan (fisik dan mental) yang tidak/kurang diberikan oleh lingkungan
sekolah maupun masyarakat.
d) Membina proses pendidikan dan sosialisasi
yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak saja dapat bermanfaat positif bagi
anak, tetapi juga bagi orang ta dalam rangka perkembangan dan kematangan hidup
bersama menuju keluarga sejahtera
8) Pembinaan Lingkungan; Keluarga merupakan
tempat perlindungan/ unit sosial yang dapat mengayomi, memberi rasa damai, aman
dan bahagia. Karean itu sebuah keluarga mempunyai peran dalam melestarikan
lingkungan yang sehat, baik jasmani dan rohani. Di antara fungsinya adalah untuk
:
a) Membina kesadaran, sikap dan praktek
pelestarian lingkungan intern keluarga
b) Membina kesadaran, sikap dan praktek
pelestarian lingkungan ekstern hidup berkeluarga
c) Membina kesadaran sikap dan praktek
pelestarian lingkungan hidup yang serasi, selaras dan seimbang antara
lingkungan keluarga dengan lingkungan hidup masyarakat sekitarnya.
d) Membina kesadaran, sikap dan praktek
pelestarian lingkungan hidup sebagai pola hidup keluarga menuju keluarga
sejahtera.

E. Kiat
Mewujudkan Keluarga Harmonis dan Bahagia
“Selain seorang ISTRI yang sah semua
wanita adalah IBU. Selain seorang SUAMI yang sah semua laki-laki adalah AYAH”

Dalam rangka membina keluarga
menuju terciptanya keluarga yang harmonis, bahagia, sehat, sejahtera, serta
kokoh, ada beberapa upaya yang harus ditempuh:
1. Membina Rumah Tangga yang Harmonis; upaya
mewujudkan harmonisasi hubungan antar anggota keluarga dapat dicapai apabila
antar anggota keluarga tumbuh:
1. Saling Pengertian; yakni antara anggota keluarga saling memahami dan mengerti tentang keadaan masing-masing baik secara fisik maupun secara mental
2. Saling Menerima Kenyataan; dimana seluruh anggota keluarga hendaknya menerima kenyataan yang ada pada dirinya yang diberikan Hyang Widhi. Namun manusia diperintahkan untuk berusaha guna mencapai kondisi yang lebih baik.
3. Saling Melakukan Penyesuaian Diri; penyesuaian diri dalam ruang lingkup keluarga berarti setiap anggota keluarga berusaha untuk dapat saling mengisi kekurangan yang ada pada diri masing-masing serta mau menerima dan mengakui kelebihan yang ada pada orang lain dalam lingkungan keluarga. Kemampuan dalam penyesuaian diri oleh masing-masing anggota keluarga dalam lingkungan keluarga mempunyai dampak yang positif baik bagi pembinaan keluarga
4. Memupuk Rasa Cinta dan Kasih Sayang; setiap keluarga menginginkan hidup bahagia, karena setiap keluarga berpendapat bahwa kebahagiaan adalah segala sesuatu yang dapat mendatangkan ketentrama, keamanan, dan kedamaian serta segala sesuatu yang berifat pemenuhan keperluan mental spiritual manusia.
5. Melaksanakan Asas Musyawarah; sikap musyawarah terutama antara suami dengan istri merupakan suatu yang perlu diterapkan. Hal tersebut sesuai dengan prinsip bahwa tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan kecuali dengan musyawarah.
6. Suka Memaafkan; diantara anggota keluarga harus ada sikap kesediaan untuk saling memaafkan atas kesalahan masing-masing. Hal ini penting karena tidak jarang soal yang kecil dan sepele dapat mengganggu hubungan antara anggota keluarga yang berdampak kepada perselisihan berkepanjangan dan rapuhnya ketahanan keluarga.
7. Berperan Serta Untuk Kemajuan Bersama; masing-masing anggota keluarga harus berusaha saling membantu pada setiap usaha untuk peningkatan dan kemajuan bersama.
2. Membina Hubungan Antara Anggota Keluarga;
keluarga dalam lingkup yang lebih besar lagi, tidak hanya terdiri dari ayah,
ibu dan anak, akan tetapi menyangkut hubungan antara angota satu keluarga
dengan kelaurga yang lain bahkan hubungan dengan lingkungan masyarakat. Karena
hubungan persaudaraan yang lebih luas sudah menjadi ciri khas dari masyarakat
kita, bukan saja hubungan antara anggota
suatu keluarga saja yang harus dibina, namun hubungan antara sesama keluarga
besar harus terjalin dengan baik bahkan hubungan dengan famili dari kedua belah
pihak antara suami dan istri.
3. Membina Keluarga Sehat Sejahtera
Keluarga yang kokoh adalah
keluarga yang sehat, sehat semua anggota keluarganya baik jasmani, mental,
sosial, dan kesehatan rohani (sthula sarira, suksma sarira dan antahkarana
sarira). Kesehatan yang diberikan oleh Hyang Widhi merupakan sebuah anugrah
yang senantiasa harus disyukuri. Upaya membina keluarga yang sehat dan
sejahtera dapat dilaksanakan diantaranya melalui:
a. Pemenuhan zat-zat gizi dalam makanan yang
diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh para anggota keluarga
dengan menyediakan makanan yang sehat dan Sattvika.
b. Penyediaan nafkah untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari bagi seluruh anggota keluarga.
c. Berusaha untuk senantiasa menjaga dan
memelihara serta meningkatkan kondisi
kesehatan dan kesejahteraan anggota keluarga.
d. Berdoa yaitu memohon kepada Hyang Widhi dengan
didasari niat yang sungguh-sungguh dan hati yang ikhlas agar diberikan karunia
kesehatan dan kesejahteraan kepada keluarga yang dikehendaki.
4. Menjadikan Keluarga sebagai Tempat Ibadah, dengan
pandangan bahwa: Setiap anggota keluarga adalah tempat ibadah yang hidup, Sang
ibu adalah pendeta utamanya, Kerendahan hati adalah dupa (keharuman) yang
memenuhi seluruh rumah, Rasa hormat adalah pelita yang dinyalakan dengan kasih
sebagai minyaknya, Iman sebagai sumbunyarumah
tangga yang bahagia merupakan sel-sel utuma yang membentuk organisme nasional, Keluarga
sangat penting untuk mengembangkan kepribadian manusia, Bagaimana bayi dapat
tumbuh, belajar, berbicara, dan berkembang tanpa suatu rumah tangga.
5. Menjadikan Keluarga sebagai Pusat Kebahagiaan;
dengan memperhatikan pengaturan tata letak rumah, memilihkan pasangan hidupuntk anak-anak,dan melakukan sanggama
sesuai dengan aturan sastra.
6. Menjadikan
Keluarga sebagai pusat Pendidikan ; Bila ada kebajikan dalam HATI akan ada keindahan dalam Watak. Bila ada
keindahan dalam watak akan ada keharmonisan dama Rumah Tangga. Bila ada
keharmonisan dlm Rumah Tangga akan ada ketentraman dalam Negara. Bila ada
ketentraman dalam Negara akan ada kedamaian di Dunia
7. Keluarga sebagai
lembaga komunikasi & diskusi dengan melakukan dialog dan terbuka, karenatidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan
sepanjang kita mau membicarakannya dengan kejujuran, dan kepala dingin.
8. Berkonsultasi & Mohon petunjuk kepada guru; Jika pikiran
sedang gelisah, janganlah ditunjukkan kegelisahan itu pada setiap orang yang kita
temui. Tetapi kita harus menceritakan
dan menyatakan kegelisahan itu hanya kepada orang yang benar-benar dapat
menolong kita.
9. Siapkan waktu
untuk kegiatan Rohani;
a. Dengan
melakukan meditasi bersama keluarga minimal dua kali sehari.
b. Jangan lupa
berdoa demi keutuhan keluarga; Omiha iva stam ma vi yaustam visvam ayur vyasnutam, kridantau putrair naptrbhih
modamanau sve grhe – Ya Tuhan Mahakasih, anugrahkanlah kebahagiaan kepada
rumah tangga kami, tiada terpisahkan, panjang umur. Anugrahkanlah kami putra
dan cucu yang memberikan penghiburan, dapat tinggal di rumah yang penuh dengan
kegembiraan
c. Susastra agama ibarat obor bagi yang buta,
tongkat bagi yang cacad, dan bagai guru bagi yang bodohuntuk itu setiap keluarga
hendaknya memiliki perpustakaan keluarga.
d. Jangan
kikir…..bersedekahlah…!Serve
to the all man kind is serve to the God, Serve all love all, Serve ever hurt
never
10. Represing sangat penting guna menghilangkan kepenatan setelah lama
beraktivitas
11. Setialah hanya kepada pasangan kita seorang sampai kematian memisahkannya dan arahkan seluruh indrya hanya kepada
hal-hal yang benar.

F. Simpulan
Mengingat tugas utama orang yang berkeluarga adalah menjaga dan memelihara
nilai-nilai kerohanian keluarga serta masyarakatnya, untuk mewujudkan hal
tersebut para grhasthin harus bekerja keras mencari uang, kedudukan, gelar,
kekuasaan, dan kekayaan. Demikian kepala keluarga dituntut bekerja keras
mencari nafkah atau uang sesuai dengan bakat dan kepribadian masing-masing
dengan tetap berpegang teguh kepada Dharma.
Dalam kehidupan berkeluarga, pasangan suami-istri tidak boleh menjadi
manusia pemalas yang hanya mengandalkan kekayaan orang tua atau orang lain. Orang yang telah terikat
dalam ikatan perkawinan, berkewajiban untuk mengusahakan supaya mereka tidak
bercerai dan tidak melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain. Karena dimana
suami hanya berbahagia dengan istrinya seorang dan demikian pula sang istri
terhadap suaminya seorang, disanalah kebahagiaan akan terwujud. Dengan cara
menjaga agar hubungan yang setia sebagai pasangan suami-istri tersebut
berlangsung sampai mati, karena kesetiaan orang dalam tangga merupakan hukum
tertinggi.
Para
grhastin agar dapat memaknai bahwa konsep Catur Warna wajib dikembangkan dalam kehidupan keluarga,
yakni fungsi: Brahmana; Ksatria, Vaisya,dan
fungsi Sudra. Termasuk juga fungsi Sosial Budaya, Reproduksi, dan
Sosialisasi dan Pendidikan serta Pembinaan Lingkungan. Dengan demikian
keluarga idaman yang harmonis dan bahagia tentu akan dapat kita wujudkan

G.
Penutup
Om sarve bhavantu sukhinah sarve santu
niramaayah sarve badrani passyantu Ma kascit duhkha bhag bhavet
Om purnam adah
purnam idam purnat purnam udhacyate purnasya purna ma dhaya purnam iva
vasisyate
Semoga semuanya selalu berbahagia, Semoga selalu dalam
keadaan sehat, Semoga semuanya sejahtera, Semoga tidak seorangpun yang
menderita atas karuniaMu.
Ya Tuhan
mahasempurna, hamba yang tiada sempurna ini memujaMu, semoga itu menjadi
sempurna, yang ini menjadi sempurna, karena kesempurnaan hanya dapat muncul
dari sempurna. Semoga yang tidak sempurna menjadi sempurna, semoga yang ada
hanyalah kesempurnaan atas karuniaMu
Semoga Brahman
selalu memberkati kita semua dengan kebahagiaan dan kedamaian

Om Santih Santih
Santih Om