Hakim Yang Bijaksana
Om Swastyastu
Salam Kasih
Ada seorang
kaya tinggal disebuah kota dengan istrinya. Rumah mereka besar. Harta mereka
pun banyak. Mereka memiliki beberapa orang pembantu. Dibelakang rumah mereka,
ada sebuah rumah yang dimiliki oleh keluarga miskin. Dirumah inilah simiskin
dan istrinya tinggal. Walaupun sikaya hidup senang dan berkemewahan namun
badan mereka sangatlah kurus. Apabila mereka berjalan, mereka terlihat seperti
pasangan tinggi kurus. Hal ini bertolak belakang dengan si miskin dan
istrinya. Badan mereka gemuk. Walaupun miskin mereka senantiasa gembira.
Sementara si Kaya selalu sibuk dalam mengurus harta kekayaannya yang banyak
itu. Si kaya takut sekali kalau usaha dagangnya rugi.
Pada suatu hari
si kaya dan si miskin berjumpa di jalan. Apa yang kamu makan hingga badanmu
menjadi gemuk seperti ini, tanya si kaya kepada si miskin. Saya tidak makan
apa-apa, kecuali disetiap saya dan istri mau makan, kami selalu menunggu tukang
masak tuan memasak. Aroma masakan yang datang dari dapur rumah tuan
meningkatkan selera makan kami. Inilah yang menjadikan kami gemuk dan sehat,
Kata si miskin. Si kaya sangat marah mendengar jawaban si miskin. Baginya si
miskin telah mendapatkan keuntungan dari aroma masakan yang di masak oleh
tukang masaknya. Lalu hal itu diadukannya kepada seorang Hakim.
Saya ingin
mendapatkan ganti rugi tuan hakim, kata si kaya kepada sang Hakim. Si kaya dan
istrinya juga hadir karena ingin mendapatkan ganti rugi dari makanan mereka. Si
miskin dan istrinya mengakui bila sang hakim menyatakan dakwaan dan setuju akan
tuntutan si kaya dan istrinya. Tiba saatnya, Sang Hakim pun menjatuhkan
hukuman, dan dia meminta sejumlah uang emas dan sebuah mangkuk besi.
Bersediakah kamu menerima ganti rugi itu. Tanya sang hakim kepada si kaya dan
istrinya. Si kaya pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia setuju. Sang
hakim mulai mengangkat uang emas itu dan menjatuhkannya kedalam mangkuk besi
itu. Dentingan suara uang emas itu terdengar nyaring bunyinya. Dan si kaya pun
menghitungnya satu persatu. Itukah uang ganti buat saya tuan hakim, tanya si
kaya kepada sang hakim?. Sang Hakim menjawab, oleh karena si miskin hanya makan
bau aroma makanan kamu, maka kamu pun hanya dapat mendengar dentingan bunyi uang
itu, kata sang hakim. Setelah itu, Iapun menghentikan pembicaraannya.
Singkat
cerita, si miskin terlepas dari jeratan tuntutan si kaya, dan si kaya dan
istrinya pun merasa malu akibat ulahnya.
Bahan Renungan:
Dalam
pepatah Jerman kita sering mendengar: ” Wie du in den Wald hineinrufst, so
hallt es wieder“. yang artinya ” bagaimana dikau berteriak menyeru kedalam
hutan, demikianlah gaung yang kembali kepadamu”. Segala perbuatan adalah Karma,
dan apa yang kita terima adalah akibat dari Karma kita, itulah yang kita kenal
dengan Karma Phala.
Rahayu-Shri Danu D.P