Om swastyastu,

http://hindunesia.com/?p=380

Pandangan orang Amerika mengenai Tuhan dan Kehidupan beralih ke Hindu. Di edisi 31 Agustus 2009, majalah Newsweek mengatakan, “Kini Kita Semua Hindu.” Link sumber berita, bisa Anda dapatkan di akhir tulisan. Redaksi HINDUNESIA.com menerjemahkan untuk Anda:

Amerika bukanlah bangsa Kristen. Kita, memang benar, sebuah negeri yang didirikan oleh penganut Kristen, dan merujuk pada sebuah survey tahun 2008, 76 % dari kita terus memperkenalkan diri sebagai seorang Kristen (tetap, terhitung sebagai persentase terendah dalam sejarah Amerika). Tentu saja, kita bukanlah negara Hindu atau Muslim, atau Yahudi, juga bukan Wiccan. Lebih dari sejuta umat Hindu hidup di US, sedikit dari 1 milyar penganutnya di seluruh dunia. Akan tetapi polling data terakhir menunjukkan bahwa secara konseptual, setidaknya, kita perlahan tetapi pasti menjadi seperti penganut Hindu, dan lebih tidak serupa dengan orang-orang Kristen tradisional dalam hal cara kita berpikir tentang Tuhan, diri kita sendiri, satu sama lain, dan kekekalan.

Rig Veda, kitab suci Hindu yang paling tua, mengatakan hal ini: “Kebenaran adalah Satu, tetapi para orang bijak menyebutnya dengan banyak nama.” Seorang Hindu percaya bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan. Jesus adalah sebuah jalan, Qur’an adalah jalan lainnya; semua adalah sama (Kesalahpahaman, mohon membaca catatan Redaksi). Yang paling tradisional, para penganut Kristen konservatif tidak pernah diajarkan berpikir seperti ini. Mereka belajar di sekolah minggu bahwa agama mereka adalah kebenaran, dan yang lainnya sebagai agama palsu. Jesus mengatakan,” Akulah jalan, kebenaran, sekaligus kehidupan. Tak seorangpun dapat menemui Bapa kecuali bersamaku.”

Orang-orang Amerika tidak lagi menerima doktrin ini (bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan). Menurut sebuah survey oleh Pew Forum tahun 2008, 65% orang Amerika percaya bahwa “banyak agama dapat menuntun kepada hidup yang kekal” — termasuk 37% orang-orang Injil berkulit putih, kelompok yang kemungkinan besar percaya bahwa penyelamatan adalah milik mereka sendiri. Juga, jumlah orang-orang yang mencari jalan spiritual di luar gereja semakin banyak. 30 % orang Amerika mangatakan dirinya “spiritualis bukan relijius,” menurut jajak pendapat NEWSWEEK tahun 2009, naik dari 24 % di tahun 2005. Stephen Prothero, guru besar agama di Universitas Boston, telah sejak lama menggambarkan kecenderungan orang Amerika terhadap agama yang “silakan pilih sendiri mau yang mana” sebagai “sangat berjiwa Hinduisme”. Anda tidak mengambil dan memilih dari agama-agama yang berbeda, karena mereka semua sama,” ia mengatakan. Bukan tentang nilai orthodox. Intinya adalah yang penting bisa hasilnya baik. Jika Yoga bekerja untuk Anda, bagus – dan jika pergi ke misa Katolik bekerja bagi Anda, bagus. Dan jika pergi ke misa Katolik plus yoga plus retret-retret Budha bekerja bagi anda, itu juga bagus.”

Kemudian timbulah pertanyaan apakah yang terjadi ketika Anda mati. Umat Kristen secara tradisional percaya bahwa tubuh-tubuh dan jiwa-jiwa akan disucikan, bahwa bersama mereka terdiri dari sang diri, dan bahwa di akhir waktu mereka akan dikumpulkan kembali dalam sebuah kebangkitan. Anda butuh kedua-duanya (tubuh dan jiwa), dengan kata lain, dan Anda butuh kedua-duanya selamanya. Penganut Hindu tidak mempercayai hal demikian. Pada saat kematian, tubuh dibakar diatas tumpukan bahan bakar (kayu), ketika roh terlepas. Dalam reinkarnasi, ajaran utama dalam Hinduisme, sang diri kembali dan kembali ke dunia dalam tubuh-tubuh yang berbeda. Sehingga inilah cara lain orang Amerika menjadi semakin Hindu: 24 persen orang Amerika mengatakan mereka percaya kepada reinkarnasi, merujuk kepada jajak pendapat (Harris poll) tahun 2008. Jadi kaum agnotis tentang takdir tubuh kita dibakar seperti halnya umat Hindu setelah mati. Lebih dari sepertiga orang Amerika kini memilih kremasi (ngaben), sesuai dengan Asosiasi Kremasi Amerika Utara, meningkat dari 6 persen pada tahun 1975. “Saya berpikir peran yang lebih besar dari agama untuk mengkaji beberapa interpretasi yang sebenarnya dari makna kebangkitan,” ujar Diana Eck, profesor perbandingan agama di Harvard. Jadi mari kita semua mengucapkan: “OM”. [sumber]

Catatan redaksi HINDUNESIA.com
Pernyataan dibawah ini adalah sebuah kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat:
“Seorang Hindu percaya bahwa ada banyak jalan menuju Tuhan. Jesus adalah sebuah jalan, Qur’an adalah jalan lainnya; semua adalah sama.”

Dalam Hindu kita memang mengenal:
“Dengan jalan bagaimanapun ditempuh oleh manusia ke arahku, semuanya aku terima dan memenuhi keinginan mereka, melalui banyak jalan manusia menuju jalanku, Oh Prtha” (Bhagawad Gita V-2) .

Yang dimaksud oleh Bhagawad Gita dengan berbagai jalan itu adalah Catur Yoga (Jnana, Karma, Bhakti, dan Raja Yoga), bukan melalui ajaran agama lain. Dan tidak benar bahwa semua agama sama. Karena dilihat dari tujuan hidup, dan sebagainya sangat jauh berbeda. Silakan membaca buku: Semua Agama Tidak Sama, ditulis oleh Ngakan Putu Putra, penerbit Media Hindu.

Om shanti shanti shanti Om

sources : HD Net