Senantiasa dalam Kebahagiaan Tertinggi.

542. “Sang bijak yang senantiasa ada dalam Kebahagiaan Tertinggi ini
kehidupannya terkadang tampak seperti orang dungu dan terkadang tampak
seperti cendekiawan, terkadang tampak anggun bak seorang maharaja dan
terkadang seperti pengemis gila, terkadang lemah-lembut dan terkadang
pemarah, terkadang sengit dan terkadang manut-manut saja, terkadang
meremehkan dan terkadang sekedar acuh-tak-acuh.

543. “Kendati miskin, selalu berkecukupan; kendati tak punya bala-tentara,
selalu kuat-perkasa; kendati tak makan, selalu berpuas-hati; kendati tiada
tara, beliau selalu menatap semua dengan pandangan kesetaraan.

544. “Meski tampak bertindak, beliau bukanlah pelaku; meski merasakan
pahala, beliau bukanlah penikmat hasil perbuatan; kendati masih berjasad,
beliau tak terbatasi oleh jasad; kendati terkurung, beliau hadir
dimana-mana.

545. “Senang pun susah, baik pun buruk, tak menyentuh kedamaian hati dari
sang bijak yang telah mengenal Tuhan —yang tanpa tubuh tertentu namun selalu
hadir ini.

546. “Suka dan duka, baik dan buruk, ada bagi yang melekat pada jasad-kasar
berikut segenap objek-objek indriawinya. Bagaimana bisa ada konsekuensi baik
ataupun buruk bagi sang *muni[1] <#_ftn1>* bijak yang telah merontokkan
semua belenggu dan manunggal dengan Yang Sejati?”

sources : millis HD Net