September 5, 2009 at 2:55 am (RUMUS-RUMUS TERSEMBUNYI BENCANA ALAM)

(perlambang gempa, petunjuk bencana, prediksi bencana, prediksi gempa alam,

Tanda-tanda akan terjadi bencana, tanda-tanda gempa bumi)

BAB; Gempa Bumi

Gempa bumi dengan kategori kekuatan besar dan menghancurkan tetap bekerja

sebagai seleksi alam, serta gerakan harmonisasi alam semesta. Di mana alam

semesta beserta penghuninya mengalami  perubahan-perubahan dan gerak

tarik-ulur, dan saling tarik menarik. Antara gerakan negatif-destruktif

dengan gerakan positif konstruktif. Untuk kasus gempa bumi, sisi

misteriusnya adalah, gempa bumi merupakan gejolak amuk alam tetapi bukan

berarti terjadi disorder dan disharmoni alam semesta. Sebaliknya biasanya

tetap berlaku rumus keadilan. Alam bergolak TIDAK DENGAN CARA PENGECUT.

Gejolak alam TIDAK akan berlangsung secara diam-diam atau mencuri-curi

kesempatan bak seorang pecundang. Sebaliknya, alam semesta menjalankan

"permainan"  secara fairplay, sebelumnya selalu bersuara lantang

menyampaikan pesan-pesan kepada seluruh penghuninya, meliputi hutan, gunung,

sungai, dimensi gaib dengan makhluk halus penghuninya, serta binatang dan

manusia. Seluruh isi dan makhluk penghuni bumi ini, pada kenyataannya

MANUSIALAH YANG PALING NDABLEK, MATA & TELINGANYA sengaja dibuat TULI hanya

karena alasan berlebihan takut tergoda bujukan setan yang gemar menyesatkan

iman. Padahal setan itu melekat sejak akil baliq (usia dewasa) pasti

bersemayam di dalam tubuh setiap insan,  sebab setan itu tiada lain kiasan

untuk nafsu negatif manusia, "setan" sebagai gambaran nilai-nilai negatif

yang paradoksal kebalikan dari nilai-nilai "ketuhanan" yang serba positif.

Ketakutan berlebihan itu, pada kenyataannya hanya menghasilkan kesadaran

jahiliah, kesadaran yang terkungkung oleh unsur jasadiah meliputi rasio dan

emosi nafsu negatif, namun sudah merasa diri orang paling benar di dunia.

Ilmu-ilmu dan alat-alat untuk membaca pesan-pesan alam telah lama

ditinggalkan manusia. Ngelmu titen, ngelmu kawaskitan, dll yang dijadikan

sarana membaca warning dalam bahasa alam dianggap sumber musrik dan tahyul

oleh manusia-manusia picik dan dangkal kesadarannya hanya karena tidak

memakai bahasa tanah suci. Padahal ilmu-ilmu tersebut sangat ilmiah bila

dijelaskan secara komprehensif dan esensial. Ilmu yang mampu untuk

mencermati apa yang menjadi kehendak Tuhan. Bila kita mampu membaca

pesan-pesan dalam bahasa  alam, maka kita akan weruh sadurunge winarah.

Menjadikan kita lebih hati-hati dan waspada, mengerti dengan betul-betul apa

yang harus dilakukan dengan arif dan bijaksana. Lantas apa manfaatnya jika

kita menafikkan ilmu-ilmu untuk membaca bahasa Tuhan ? Bukanlah menjadi

tidak sesat dan iman tergoda, namun hasilnya tidak lain adalah  kegagalan

untuk bisa "nggayuh kawicaksananing Gusti". Jadi orang yang kagetan dan

gumunan, dan tidak tahu akan dirinya yang sejati.

Manusia-manusia yang berwatak gumunan dan kagetan mudah bersikap gegabah

bilamana bencana dahsyat (mega disaster) benar-benar melanda seantero negeri

ini. Menjadi orang yang tak pernah menyadari apa yangs esungguhnya sedang

terjadi. Kini zaman serba terbalik (wolak-waliking zaman), di mana orang

suci dianggap kotor, orang kotor dianggap suci. Bandit menjelma bagaikan

syeh, sebaliknya "syeh" yang sebenarnya justru diruduh sebagai seorang

bandit yang kafir. Ulama spiritual sejati diangap sebagai orang sesat,

sementara itu orang yang benar-benar keblinger dianggap orang pinter (alim).

Tampilan kulit luar nan mempesona, yang indah manakjubkan  dianggapnya

sebagai isi dan tujuan yang dicari selama ini. Sedangkan isi yang

sesungguhnya berujud belatung, namun dibayang-bayangkan sebagai "madu murni

asli sumbawa". Wolak-waliking zaman !! Banyak orang merasa diri bersih,

suci, bener, pener, pas, soleh-solikah, padahal dirinyalah yang termasuk

orang-orang keblinger itu. Dikiaskan dalam jongko sebagai setan yang

berlagak manusia soleh: Ana setan riwa-riwa minda manungsa anggawa agama.

Akeh kang padha katambuhan. Ada "setan berbulu" yang berlagak menjadi

manusia yang ahli agama (alim ulama). Banyak orang yang tertipu tetapi tidak

merasa tertipu. Itulah tanda-tanda zaman di saat  ini. Alam pun menyambutnya

dengan gebrakan dahsyat, gempa bumi, banjir besar, tsunami, distorsi cuaca

yang sangat gawat, wabah penyakit aneh  (pagebluk). Di mana-mana banyak

perang karena emosi angkara manusia berebut CARI BENERNYA SENDIRI, cari

butuhnya sendiri, cari menangnya sendiri. Dalam bertuturpun tanpa ampun,

hati tega nian gemar menghakimi orang lain secara sadis dan hina, dengan

hanya berdasarkan keyakinan asal-asalan, bukan menghakimi dengan data

otentik dan kesaksian pasti nan sejati. Seolah dirinya tahu segalanya akan

hakekat kehidupan sejati, seolah-olah pernah mati dan pernah menjelajah di

alam kehidupan sejati. Padahal dasar pengetahuan dan keyakinannya sangat

lemah, hanya omonge, ujare, ceunah ceuk ceunah, kabar kabur, kabur-kanginan.

Sebaik apapun keyakinan tetap saja sekedar KONSEP BERFIKIR dan konsep

beryakin (menata hati untuk percaya saja). Tak peduli walau dirinya tak

pernah mengalami dan menyaksikan sendiri akan nilai-nilai ketuhanan. Just

never say that :  "keyakinan itu hanya perlu diyakini saja, karena manusia

MUSTAHIL bisa tahu apa yang terjadi di alam kehidupan sejati, jika belum

pernah mati.    Kalimat itu, hanya berlaku bagi :

1.      Siapapun yang enggan mengolah rahsa sejati. Yang hanya mengandalkan

kesadaran jasadiah, meliputi kesadaran rasio yang teramat terbatas kemampan

nalarnya.

2.      Siapapun yang kesadaranya didominasi oleh kekuatan emosi /

nafsu-nafsu negatif.

3.      Berlaku bagi siapapun yang tidak mengenal konsep "setan" dengan

sungguh-sungguh.

4.      Bagi siapapun yang terjebak oleh belenggu ketakutan  berlebihan akan

sesat dan godaan iman.

5.      Siapapun yang kesadarannya terbelenggu oleh dogma-dogma yang penuh

intimidasi dosa-nerakawi dan iming-iming pahala-surgawi.

Sementara itu, sebuah tradisi lama leluhur bangsa ini telah membutikan bahwa

tanpa harus mati terlebih dulu, sebenarnya manusia diberikan kesempatan

"melongok" apa yang sesungguhnya terjadi di dalam panggung "alam

kelanggengan" di mana terdapat kehidupan sejati, yang langgeng tan owah

gingsir. Para pembaca yang budiman, mari kita kembali ke tema semula,

mengungkap sedikit demi sedikit tabir misteri di balik bencana alam,

khususnya gempa bumi. Berikut ini saya paparkan gejala umum akan terjadinya

gempa.

Gejala Umum

1.      Gempa bumi sangat mematikan biasanya terjadi pada saat banyak orang

sudah terbangun dari tidur pulas, misalnya siang hari atau di saat

pergantian waktu antara malam ke siang hari atau sebaliknya, siang hari ke

malam hari. Tepatnya waktu antara jam 05.00 s/d 08.00 pagi atau sore. Jadi,

bisa dikatakan gempa bumi mematikan tidak terjadi pada saat mayoritas orang

sedang terlelap tidur. Sehingga pantas dikatakan bahwa "sing sopo leno keno",

siapapun yang terlena (tidak eling waspada) akan menjadi korban.

2.      Gempa bumi dahsyat tidak terjadi pada saat orang sedang terlelap

dalam tidur misalnya saat-saat antara jam 24.00 s/d 03.00 malam. Mungkin hal

ini merupakan rumus/prinsip keadilan Tuhan, atau kearifan hukum alam/kodrat

alam.

3.      Gempa bumi tidak terjadi pada saat daratan terjadi bencana alam

mislanya banjir. Karena musibah bencana alam biasanya tidak terjadi

bersamaan, namun bergantian antara bencana yang datang dari daratan, udara,

dan lautan.

4.      Gempa bumi tektonik terjadi di saat musim kering, atau musim

kemarau. Sebaliknya musim penghujan sangat jarang terjadi gempa bumi.

Kecuali gempa vulkanik dari gunung berapi.

5.      Gempa bumi tektonik konon tidak terjadi pada hari selasa. Gempa bumi

juga tidak terjadi pada saat terjadi hujan lebat dan badai sedang menimpa

daratan.

6.      Setelah terjadi gempa besar, biasanya akan segera turun hujan sangat

lebat pada malam harinya. Kejadian ini bisanya berlangsung hingga 3

kali/hari berturut-turut setiap malam hari. Setelah gempa besar, apabila

tidak terjadi hujan di malam harinya, hendaknya ekstra hati-hati karena akan

terjadi gempa susulan yang lebih besar. Apabia pasca gempa tektonik yang

besar tidak terjadi hujan, hendaknya ekstra hati-hati terhadap gempa susulan

yang kemungkinan besar akan terjadi.

Tanda-tanda Alamiah

1.      Beberapa minggu dan hari sebelum terjadi gempa besar, biasanya akan

muncul awan hitam mulai siang hingga sore hari. Kemunculannya hanya sekali

dua kali/hari, setelah itu lenyap dengan sendirinya. Ciri-ciri awan hitam

tersebut seolah bagaikan mendung tetapi tidak menghasilkan hujan, warnanya

hitam keabu-abuan bergumpal, tetapi rata menutupi seluruh ruang pandang di

langit. Awan hitam itu seolah jaraknya dengan bumi terasa sangat

rendah/dekat. Tidak ada angin, suasana mencekam, hening namun terkesan

sangat mistis (beraura energi kuat).

2.      Cermati bila keadaan di atas mulai tampak. Coba anda konsentrasi di

dalam rumah dan coba juga di luar rumah, apakah badan anda merasa

panas/gerah atau malah cenderung dingin ? Jika anda tidak merasakan gerah,

seyogyanya anda lebih hati-hati.

3.      Langit cerah dan bersih, kadang terdapat gumpalan awan putih dengan

membentuk sebuah konfigurasi yang aneh dan unik. Kadang muncul knfigurasi

seperti pusaka misalnya keris, kujang, rencong, ekor kuda, tongkat vertikal.

Kadang berbentuk menyerupai wayang kulit, wajah raksasa, wajah bola mata

manusia dst. Berbagai konfigurasi awan yang aneh-aneh tersebut merupakan

gejala yang dipengaruhi oleh radiasi energi bumi, kondisi tekanan udara yang

mengalami distorsi oleh adanya desakan energi bumi yang melebihi kewajaran.

Masing-masing konfigurasi awan memiliki arti dan makna sendiri-sendiri.

Untuk menerjemahkannya pun perlu keahlian khusus setelah kita terbiasa

mengolah rahsa pangrasa.

4.      Di samping itu, saat sebelum gempa suhu terasa sangat panas

menyengat melebihi kewajaran biasanya. Bahkan pada saat anda di dalam

ruangan atau rumah sekalipun. Rasakan dan cermati hawa panas semacam ini,

biasanya secara spontan membuat perasaan menjadi panik, gundah, gelisah.

Itulah panasnya hawa bebendu, sampai terasa panas di daun telinga kita,

panas seperti dipanggang api. Bila kita merasakan hawa dan gejala alam

seperti ini hendaklah meningkatkan kewaspadaan, biasanya hawa panas tersebut

merupakan radiasi dari tegangan energi dari dalam lempeng bumi yang siap

terlepas menjadi energi gempa bumi tektonik yang besar. Hawa panas semacam

ini dapat kita rasakan dalam jarak hingga ribuan kilometer. Misalnya posisi

kita sedang di Jakarta, lalu merasakan hawa panas tersebut, yang menjadi

gejala akan terjadi gempa di wilayah Papua, Maluku, Ambon, Sumatera Barat,

Bengkulu, dan Lampung. Hawa panas tersebut bisa di rasakan dari mana arah

datangnya.  Nah, arah itulah menunjukkan lokasi tempat di mana akan terjadi

gempa bumi.

5.      Rasakan aura panas "bebendu" tersebut, yang terasa mengalir dari

dalam tanah, melewati permukaan tanah lalu naik ke atas menjadi radiasi yang

kuat.

6.      Bila anda tidur di bawah tidak di atas ranjang, berarti anda

langsung bersentuhan dengan bumi. Saat itu anda bisa berkonsentrasi dan

memasang indera batin dan kalbu anda untuk mencermati suara yang berasal

dari bawah permukaan tanah, atau yang berasal dari dalam bumi. Apabila

terdengar suara gemuruh, terkadang disertai letupan dan dentuman kecil,

hendaknya kewaspadaan ditingkatkan. Karena suara gemurh dan

dentuman-dentuman itu merupakan proses pergerakan lempeng bumi yang akan

berubah menjadi kekuatan gelombang tektonik.

Tanda-tanda Khusus

Bagi yang telah terbiasa olah batin dan menajamkan rasa pangrasa,  atau

rahsa sejati akan lebih mudah membaca peringatan dini dari  sinyal-sinyal

yang dipancarkan dalam gerak-gerik makhluk penghuni alam semesta ini.

1.      Beberapa minggu misalnya antara 4 s/d 12 minggu sebelumnya, kita

dapat menyaksikan peristiwa spektakuler, di mana terjadi eksodus

besar-besaran oleh masyarakat "halus" dari arah mata angin tertentu menuju

ke satu arah yang lain. Misalnya dari arah selatan ke arah utara. Disebut

masyarakat karena mereka hidup berkelompok, juga membuat suatu koloni yang

saling berinteraksi di antaranya. Masyarakat "halus" itu rupanya sudah

merasakan suhu panas yang terpancar dari pusat gempa (episentrum) . Walaupun

gempa belum terjadi, namun energi tektonik yang tertahan dan terakumulasi di

dalam lapisan kulit bumi dalam sekian lama waktunya akan menimbulkan

spleteran energi yang terasa panas dan membuat badan terasa gerah sekali.

Panas itulah yang membuat mereka tidak betah/kuat lalu "mengungsi" menjauhi

pusat-pusat panas calon episentrum tersebut. Hal ini pernah terjadi 3 bulan

sebelum gempa Jogja. Dan 2 bulan sebelum gempa Bengkulu akhir tahun 2007

lalu.

2.      Perilaku binatang yang tidak wajar alias keluar dari pakem

kebiasaannya. Misalnya kucing, anjing,  mencari tempat-tempat yang dingin

untuk berteduh/tidur. Biasanya kucing dan anjing betah di tempat-tempat yang

hangat dan panas.  Kicau burung emprit gantil yang semakin intensif

terdengar di malam hari, padahal biasanya emprit gantil berkicau di pagi,

siang, dan sore  hari.

3.      Hewan dan binatang melata, binatang yang hidup di dalam rongga tanah

keluar berkeliaran pada waktu-waktu diluar kebiasaannya, berkeliaran ke

tempat-tempat yang tidak biasa disambangi atau menjadi habitat hidupnya.

Demikian pengetahuan sederhana yang bisa saya share untuk para pembaca yang

budiman, semoga bermanfaat bagi kebaikan bersama. Tulisan ini antara lain

sebagai upaya bersyukur secara konkrit, karena Gusti Ingkang Murbeng Gesang

telah memberikan anugrah hingga nyawa kami selamat dari keganasan gempa

tektonik yang melanda wilayah Bantul, Yogya, Sleman, Kulonprogo, Klaten dan

sekitarnya pada 27 Mei tahun 2006 lalu yang merenggut nyawa kurang lebih

8000 orang meninggal dunia, 350 ribu rumah hancur lebur, 38.000 orang luka

berat dan ringan. Dengan ngelmu-ngelmu warisan leluhur tersebut, Gusti Hyang

Manon mengijinkan kami "weruh sadurunge winarah" sehingga dapat melakukan

antisipasi menjaga keselamatan keluarga dan seluruh orang-orang terdekat.

Meskipun gagal meyakinkan pejabat dan pemegang tampuk pemerintahan tertinggi

negeri ini untuk melakukan langkah antisipasi.

Walau tatapan batin ini masih suram sekali memandang ke depan, namun tetap

saja harapan kami tak bergeming, semoga bencana alam dan bencana kemanusiaan

segera usai, saya percaya suatu saat nanti akan tiba waktunya, "habis gelap

terbitlah terang". Dan di saat itulah kelak banyak orang sadar diri bahwa

selama ini "kebenaran" yang erat-erat digenggamnya, ternyata imitasi,  "jauh

panggang dari api".

sources: millis HDNet